99 balon untuk 99 hari

“How a little step is celebrate, it’s mean alot for us, for them and for everyone who understand it, cause we never knew when the times is come…”

Di acara “The Oprah Show” hari Jumat 18 Desember 2009, pk 11.30 episode “a miracle with Celine Dion”, ada sebuah sesi yang sangat menyentuh sekali yaitu tentang bayi Eliot, seorang bayi yang hanya hidup di dunia selama 99 hari, karena menderita Trisomi 18 (kelainan gen).

2 bulan sebelum kelahiran bayi Elliot, Matt (ayah bayi Elliot) diberitahu oleh sang Dokter bahwa buah hatinya menderita penyakit Trisomi 18, penyakit langka yang kemungkinan survive nya sangat kecil dan bahkan prediksi dokter, bayinya tidak dapat lahir dengan selamat, sungguh berita yang menyedihkan.

Buat sebagian besar orang, hal ini pasti bikin down, emosi, sedih dan penyesalan berkepanjangan, namun Matt dan Ginny mengartikan kejadian ini sangat berbeda, kita boleh bersedih, tapi tidak untuk saat ini, karena mulai detik ini adalah momen yang terlalu berharga untuk dilewatkan bersama Elliot (si buah hati yang belum lahir).

Sejak itu setiap hari Matt dan Ginny selalu menyempatkan untuk menulis surat kepada buah hatinya, beruntung bayi Elliot dapat lahir dan bertahan hidup, walaupun di sekujur tubuh dipenuhi selang-selang, kisah lengkapnya langsung ditonton videonya moms…very touching (5 star rating on you tube)

Catatan: mohon bersabar kalo load nya sedikit lama, video ini sangat bermakna sekali buat kita

So moms, ayo kita luangkan waktu lebih banyak waktu untuk bayi (dan orang) yang kita cintai 🙂

Lily sang jagoan peta dunia

Nih, satu lagi video tentang anak jenius(baca: bisa karena biasa) yang jagoan peta dunia…

“wah jangan2 kita dikibulin ama orang bule…” :D, buat yang masih terlintas pikiran itu, coba dech browse di om google pake keyword “rachael ray geography whiz”, bahwa sebetulnya hal ini terjadi berawal dari ketidak sengajaan pada saat paman si Lily (the world map master) akan berangkat ke taiwan dan dia menunjukkan letak taiwan di peta dunia pada Lily.

Ternyata di luar dugaan bahwa Lily akhirnya menjadi biasa untuk bermain dengan peta, hingga akhirnya bisa tahu lebih dari 80 negara di peta dunia.

apa sih rahasianya? 😀

Bunda, insyaf yuk!

Mungkin secara tidak sadar kita sering melakukan ini, Pernahkah bunda mengalami ini … selalu membelikan / memakaikan baju, aksesoris & sepatu untuk bayi atau balita dengan merk ternama, warna senada dan ukuran 1 bahkan 2 nomor lebih besar.. 😀

Kalo iya, insyaf ya bu… hehehe Sekarang coba saya jelaskan sedikit Memang bagi yg melihat, pasti sangat menggemaskan jika melihat bayi or balita dengan kondisi seperti itu, Tapi coba kita bayangkan sejenak jika kita di posisi mereka, bayi atau balita yang berumur 6 bulan memakai pakaian, aksesoris, sepatu bermerk dengan warna senada dan ukuran lebih besar …. Hum… apakah kita merasa antusias? saya rasa kita belum mengerti untuk hal itu bahkan kita justru merasa tidak nyaman karena ukurannya semua kebesaran… 😀

Tetapi tahukah bunda, jika bayi atau balita kita berikan benda untuk dilihat, didengar, dicium bahkan dipegang mereka justru akan lebih antusias untuk bereksplorasi. Dan inilah yang secara tidak sadar kita lakukan bahwa kita sering lebih focus memperhatikan kebutuhan bayi atau balita untuk leher ke bawah di bandingkan leher ke atas.

Nah sekali lagi saya minta tolong bunda untuk membayangkan, jika kita memiliki sedikit uang lebih untuk keperluan bayi atau balita kita belikan untuk semua keperluan leher kebawah, nah apakah hal itu nantinya akan selalu berguna.. ? ( tolong jawabannya disimpan dulu ya bu … ) Tapi coba kita bayangkan, jika uang tersebut kita pakai untuk segala hal untuk menstimulasi perkembangan otak anak kita lewat panca indera mereka? saya rasa, jika melakukan ini maka nantinya kita pasti bisa petik hasilnya. 😀

Bayi kita yang ajaib

Menjadi seorang ibu, istri serta wanita karier bukanlah hal yang mudah untuk mengatur waktu palagi klo masih ditambah lagi kegiatan diluar itu :D.

Setelah terjadi duel argument dengan suami (baca artikel: perlu gak sih bayi bisa baca?), saya semakin tertantang untuk dapat membuktikan ke suami kalo semua yang saya ketahui merupakan hasil penelitian dan sudah terbukti. Maka sejak momen itu, saya pun semangat untuk mencari informasi yang berhubungan dengan Bayi Membaca dan disini saya coba sedikit berbagi ke pembaca semua dengan harapan dapat membantu diluar sana, yaitu bagi para istri or suami yang memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya sementara dikarenakan masih sedikitnya informasi yang baru diketahui maka hal tersebut belum didukung sepenuhnya atau bahkan di tentang oleh pasangannya. Yah untuk kasus saya, saya termasuk beruntung sih bahwa suami saya hanya belum mendukung 100 % saja :p.

  1. dari beberapa informasi yang saya pernah baca membicarakan perkembangan otak, saat bayi lahir mereka telah memiliki 1000 triliun sambungan saraf.
  2. Dalam sambungan saraf ini akan berlaku juga hukum bertambah atau berkurangnya sambungan berdasar dari ‘gunakan’ atau tidak, dari penelitian terdapat perbedaan antara anak anak yang terstimulasi dengan yang tidak / jarang terstimulasi. Untuk anak – anak yang tidak / jarang terstimulasi sambungan saraf mereka banyak yang mati dan gugur serta besar otak bisa 20 – 30 % lebih kecil daripada kebanyakan anak seusia mereka.
  3. Golden age merupakan masa kemampuan otak anak untuk menyerap informasi dengan sangat cepat, masa ini terjadi pada pada umur 0 – 5 tahun. Tahap perkembangan otak pada anak usia dini menempati posisi yang paling besar yakni meliputi 80% perkembangan otak. Lebih jelasnya bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25%, 50% perkembangan otak akan di capai hingga usia 4 tahun, 80% hingga usia 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun dan itulah mengapa masa umur 0 – 8 tahun dikatakan sebagai masa keemasan karena masa – masa tersebut merupakan masa yang tidak dapat diulang.

Jadi tunggu apa lagi Bunda, ayo kita stimulasi bayi kita sejak dini 😀

Anak jenius hanya dengan 3 menit sehari

Bagaimana rasanya punya anak yang nilai ulangannya A di semua mata pelajaran, selalu jadi juara kelas, menguasai 5 bahasa, menang olimpiade matematika di luar negeri dan jadi pianis cilik ternama

Sering kita dengar berita-berita tersebut dari cerita tetangga, baca koran, lihat di TV atau dari milist yang ikutin sehari-hari dan kita jadi sangat kagum dibuatnya, hingga timbul pertanyaan “makannya apa sih?” ato “belajarnya gimana?” dan berbagai pertanyaan lainnya…, tapi seringkali kita berhenti sampai disitu. Dan selanjutnya kita beraktifitas seperti biasa menganggap rutinitas yang kita jalani sudah yang paling benar, wupps, hati-hati loh karena:

Fakta 1: hampir semua orang tua ingin punya anak yang pintar, cerdas apalagi jenius

Fakta 2: sebagian besar orang menganggap bahwa anak pintar, cerdas dan jenius adalah keturunan

Fakta 3: keturunan memang menentukan, tapi hanya sebagian kecil, sebagaian besarnya ditentukan oleh lingkungan dan pendidikan

Fakta 4: pendidikan yang diberikan pada usia dini 0-5 thn (masa Golden Age) sangat menentukan untuk  perkembangan otak, kepribadian dan kebiasaan anak, hal ini sering disebut juga sebagai stimulasi dini

NAH LOH…!!!

jadi, sudahkah kita memberikan lingkungan dan pendidikan yang tepat untuk anak kita? dan sejak usia dini?, karena layaknya pohon yang rindang, teduh serta berbuah banyak dan manis-manis akan bisa kita dapatkan bila sejak bibit rajin kita siram, pupuk dengan kasih sayang.

Jadi, kalo pengin anak cerdas, pintar dan jenius…jawabannya adalah sudahkah bayi kita cerdas, pintar dan jenius? semoga video berikut bisa jadi salah satu referensi kita, silakan menikmati liputan metro TV berikut 😀

Catatan: informasi ini sangat berharga untuk pendidikan anak anda, sabar ya kalo nge-loadnya sedikit lama 😉

Sudah praktik, baru mo nyoba atau masih ragu-ragu? silakan bagi komentar anda…^__^

Dea, bayi yang belajar di “Harvard”

”Perlu orang lebih dari sekampung untuk membesarkan seorang anak, itu kata Hillary Clinton. Kalau saya mah cenderung memilih yang simpel saja. ”Hanya perlu orang tua yang penuh cinta, perhatian, pelukan dan disiplin untuk membesarkan seorang anak”. Ilmu alamiah begini saya ambil dari orang Amerika juga. Dari Glenn Doman. Penemuan berdasarkan pengamatan Glenn Doman terhadap anak cedera otak di berbagai negara di muka bumi ini mengantarnya pada kesimpulan istimewa tersebut. Dan ini berlaku buat setiap anak, baik yang cedera otak maupun yang normal.”

Ya, paragraf diatas adalah kutipan dari pengantar buku Dea, bayi yang belajar di ”Harvard”, karangan Irene F. Mongkar dan Irna Permanasari, kisah nyata perjalanan seorang Irene, ibu dari bayi Dea yang awalnya bersikap skeptis terhadap teori Glenn Doman, sampai akhirnya menjadi haqqul yaqin 100% dan bahkan sekarang menjadi seorang Pembicara di banyak seminar dengan topik ”mengajar anak membaca sejak usia dini”

Buku ini critanya mengalir dari awal sampai akhir, dengan bahasa sederhana dan segar, rasanya seperti membaca novel dengan penuh makna di setiap babnya, nah yang membuat lebih seru lagi pas kita sudah di halaman 203, tentang mereka bilang apa, disini beberapa orang yang sudah kita kenal, seperti:

  1. Dewi ’Dee’ Lestari yang kini lebih aktif sebagai penulis daripada seorang penyanyi sebagai ibu dari Keenan Avalokita Kirana
  2. Prof.Dr.Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah (1998 – 2006), ayah dari 4 orang putra-putri
  3. Ibu Imas Syamsul Mappareppa, Istri Pangdam Brawijaya dan ibu empat anak remaja
  4. Wimar Witoelar, laki-laki pintar yang baik hati, lucu, penggembira dan serba simpel yang mencapai puncak kariernya sebagai Juru Bicara Presiden Gus Dur

Semuanya bercerita tentang pengalaman mengajar dan diajar membaca sejak usia dini, dan betapa hal ini sangat bermanfaat bagi mereka, karier dan masa depannya. Ini tentunya yang kita harapkan untuk anak kita kan :).

Dan walaupun buku ini telah terbit di tahun 2007, namun isinya tetap menarik untuk dicermati, dan untuk Anda yang pernah menjadi orang tua (dan sedang bersiap-siap jadi kakek-nenek), sedang menjadi orang tua, atau yang akan menjadi orang tua. Ada sesuatu, yang tak pernah Anda duga, yang akan Anda peroleh.

Perlu gak sih bayi bisa baca?

Ini adalah topik yang menjadi duel argumen antara saya dan suami ketika pertama kalinya saya tahu tentang teori Glen Doman, masa sih bayi baru 1 bulan uda mulai diajari baca, “Penting gak sih ikut seminar bayi baca!!!” (kata2 suami yang lumayan bikin down plus emosi memuncak…)

 Tuntutlah ilmu mulai dari WC (?) sampai ke liang lahad.

Gambar ini diambil dari link: http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/02/14/demi-kesehatan-kecantikan-keunggulan-kepribadian-biasakanlah-membaca/

Kalo diajak main dan dikudang masih mending, ini malah ditunjukin kartu-kartu ato biasa dibilang flash card, dengan isi kosakata dalam bahasa indonesia, bahasa inggris dan bahkan mandarin, yang terbaru malah bahasa arab pun ada…, rasa percaya dan tidak percaya itu memang muncul dalam hati, ditambah komentar teman yang lain “wong tuwoku ndhisik gak athek ngene-ngene, aku yo iso lulus kuliah teko ITS”.

Memang sih, semua akan baik-baik saja kok ketika anak (baca:bayi) kita lahir dan kemudian kita sewakan baby sitter yang akan mengurus segala keperluannya, ato mungkin kita titipkan ke TPA/orang tua sementara kita sendiri sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Gak ada ruginya…, tapi apakah kita mau sekedar tidak rugi saja, padahal mungkin kita bisa untung :), dasar otak profit he3x…

Akhirnyalah saya coba tetap konsisten dengan inkonsistensi saya he3x, dengan mengikuti seminar, beli flash card dan mulai mem-flash card dia, dan saya lanjutkan bikin card matematika dan seterusnya, sambil saya mencari tahu apa sih untungnya buat anak saya.

Dan ternyata jawabannya adalah buanyak Bu untungnya..!!!, diantaranya:

  1. Membangun kecerdasan anak, manusia mengalami fase yg disebut golden age pada usia 0-5thn dan pada masa ini kita mampu belajar dengan sangat cepat bahkan melebihi kemampuan manusia dewasa (saya akan coba jelaskan ttg ini di artikel selanjutnya), dan berdasarkan penelitian bahwa otak anak DUA KALI lebih aktif dibanding otak manusia dewasa dalam membentuk synaps (berperan untuk membangun kecerdasan anak) 
  2. Menumbuhkan kebiasaan membaca, budaya membaca yang disebut budaya masyarakat modern (baca artikel mas fatih syuhud di: http://afatih.wordpress.com/2005/05/16/membaca-sebagai-gaya-hidup/ )
  3. Lebih mudah belajar bahasa asing, di usia dini daripada setelah dewasa dan bahkan bukti nyata dari seorang teman yang menerapkan metode Glen Doman anak balitanya bisa berbicara dalam 5 bahasa

dan sebetulnya masih banyak lagi yg mudah-mudahan bisa sy lanjutkan di tulisan berikutnya. Menutup artikel ini saya ingin mengutip kata-kata dari Winston Churchill “To be perfect is to change often”, dan dalam hal ini tentunya to be perfect adalah kita harus selalu meng-evaluasi cara kita bersikap, mendidik dan mengasihi anak karena yang terbaik adalah yang kita inginkan untuk mereka.