Perlu gak sih bayi bisa baca?

Ini adalah topik yang menjadi duel argumen antara saya dan suami ketika pertama kalinya saya tahu tentang teori Glen Doman, masa sih bayi baru 1 bulan uda mulai diajari baca, “Penting gak sih ikut seminar bayi baca!!!” (kata2 suami yang lumayan bikin down plus emosi memuncak…)

 Tuntutlah ilmu mulai dari WC (?) sampai ke liang lahad.

Gambar ini diambil dari link: http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/02/14/demi-kesehatan-kecantikan-keunggulan-kepribadian-biasakanlah-membaca/

Kalo diajak main dan dikudang masih mending, ini malah ditunjukin kartu-kartu ato biasa dibilang flash card, dengan isi kosakata dalam bahasa indonesia, bahasa inggris dan bahkan mandarin, yang terbaru malah bahasa arab pun ada…, rasa percaya dan tidak percaya itu memang muncul dalam hati, ditambah komentar teman yang lain “wong tuwoku ndhisik gak athek ngene-ngene, aku yo iso lulus kuliah teko ITS”.

Memang sih, semua akan baik-baik saja kok ketika anak (baca:bayi) kita lahir dan kemudian kita sewakan baby sitter yang akan mengurus segala keperluannya, ato mungkin kita titipkan ke TPA/orang tua sementara kita sendiri sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Gak ada ruginya…, tapi apakah kita mau sekedar tidak rugi saja, padahal mungkin kita bisa untung :) , dasar otak profit he3x…

Akhirnyalah saya coba tetap konsisten dengan inkonsistensi saya he3x, dengan mengikuti seminar, beli flash card dan mulai mem-flash card dia, dan saya lanjutkan bikin card matematika dan seterusnya, sambil saya mencari tahu apa sih untungnya buat anak saya.

Dan ternyata jawabannya adalah buanyak Bu untungnya..!!!, diantaranya:

  1. Membangun kecerdasan anak, manusia mengalami fase yg disebut golden age pada usia 0-5thn dan pada masa ini kita mampu belajar dengan sangat cepat bahkan melebihi kemampuan manusia dewasa (saya akan coba jelaskan ttg ini di artikel selanjutnya), dan berdasarkan penelitian bahwa otak anak DUA KALI lebih aktif dibanding otak manusia dewasa dalam membentuk synaps (berperan untuk membangun kecerdasan anak) 
  2. Menumbuhkan kebiasaan membaca, budaya membaca yang disebut budaya masyarakat modern (baca artikel mas fatih syuhud di: http://afatih.wordpress.com/2005/05/16/membaca-sebagai-gaya-hidup/ )
  3. Lebih mudah belajar bahasa asing, di usia dini daripada setelah dewasa dan bahkan bukti nyata dari seorang teman yang menerapkan metode Glen Doman anak balitanya bisa berbicara dalam 5 bahasa

dan sebetulnya masih banyak lagi yg mudah-mudahan bisa sy lanjutkan di tulisan berikutnya. Menutup artikel ini saya ingin mengutip kata-kata dari Winston Churchill “To be perfect is to change often”, dan dalam hal ini tentunya to be perfect adalah kita harus selalu meng-evaluasi cara kita bersikap, mendidik dan mengasihi anak karena yang terbaik adalah yang kita inginkan untuk mereka.

2 tanggapan untuk posting ini.

  1. hai mom… pengalamannya mirip dng saya nih. waktu pertama bacain Martyr flash card, ortu, suami juga pada aneh dan gak setuju. Tapi begitu liat Martyr pelan-pelan udah mulai bisa baca sendiri flash card-nya, akhirnya malah mereka yang excited yang semangat ikut bantuin bacain flash card.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.